Pertemuan dengan Achilles & Patroclus

01:22

Achilles and Patroclus, yup. Gue harus banget nulis tentang mereka di blog karena kalau nggak gue ga akan bisa move on untuk nonton atau membaca buku yang lain. Mari sejenak kita kesampingkan segala urutan dalam penulisan kritik seperti deskripsi – analisis – interpretasi – dan kesimpulan (iya gue lagi ada tugas menulis kritik, dan sudah cukup pusing dibuatnya) , jadi seperti biasa gue akan ngalor ngidul tentang dua orang yang baru saja gue temukan tanpa struktur penulisan yang baik dan benar. (review seriusnya akan gue tulis dengan baik dan benar suatu hari nanti :p)



Achilles tending Patroclus' wounds from a red-figure kylix by the Sosias Painter



Pertama – tama, mari berkenalan dengan mereka.


Achilles

Achilles adalah tokoh dalam mitologi Yunani yang ditulis dalam kitab Iliad karya Homer. Achilles adalah pejuang sekaligus pangeran di kerajaan Pthia, anak dari raja Peleus. Dan ibunya , Thetis, adalah salah seorang dewa (iya, dewa kayak Appolo, Artemis, Ares dll.) Yang jelas status Achilles bisa dibilang manusia setengah dewa, seperti Hercules yang umum kita kenal.
Karena ibunya (yang menurut gue overprotektif) adalah seorang dewa, Achilles konon saat masih bayi dicelupkan ke dalam sungai Stynx (Sungai di underworld) supaya Achilles bias menjadi immortal seperti layaknya dewa – dewa. Sayangnya pergelangan kakiknya tidak ikut kebal karena tertutup tangan ibunya saat dicelupkan.  Pergelangan kakinya merupakan satu – satunya titik lemah Achilles.

Setelah ribuan tahun, puisi di Kitab Iliad banyak dibuat berbagai versi dengan berbagai sudut pandang , juga karakterisasi yang bermacam – macam. Namun secara garis besar, Achilles adalah seorang prajurit perang, ksatria, yang tangguh dan kuat se Yunani pada masa itu. Pangeran yang tumbuh dengan sifat yang arogan, ambisius, dan penuh harga diri tinggi. Hal ini dapat disimpulkan dari (1) saat ibunya yang meramalkan kepergiannya ke perang Troy. “Jika kamu tetap tinggal disini, kamu akan memiliki istri dan anak, dengan kehidupan yang baik. Namun saat anak anakmu mati dan digantikan oleh anak mereka, namamu akan hilang begitu saja. Tetapi jika kamu ikut perang Troy, namamu akan terdengar  keseleruh penjuru dan diingat selama ribuan tahun, tapi kamu tidak akan pernah kembali.” dan dia tentu memilih ketenaran dan kejayaan, penuh ambisi agar namanya terdengar selama ribuan tahun sekalipun ia harus mati muda. Kemudian, (2) caranya yang tidak mau tunduk kepada raja Agamemnon, raja tertinggi  penguasa Yunani saat itu.  Selama beberapa tahun perang Troy ia menolak untuk ikut berperang karena berseteru dengan Agamemnon, membiarkan pasukan Yunani kalah dan bertumpah darah. Ia membiarkan orang – orang mati karena harga dirinya; menunggu Agamemnon memohon – mohon bantuan kepadanya.

Patroclus

Patroclus juga adalah tokoh yang simpang siur asal usulnya. Yang paling umum ditemukan dari adaptasi Iliad adalah Patroclus diasingkan dari kerajaannya karena tanpa sengaja membunuh anak sebayanya saat berumur sepuluh tahun, diasingkan ke kerajaan Phtia tempat Achilles berada. Jadi hampir tidak ada hubungan darah dengan Achilles, dan rata – rata menempatkan Patroclus sebagai “Achilles best friend”, “Achilles beloved friend”, sampai dugaan bahwa Patroclus adalah “Achilles lovers” fufufufu (now you know where is this will be going).
Pokoknya, Patroclus adalah teman baik Achilles, yang selalu menemani Achilles dari kecil. Usia Patroclus pun simpang siur, ada yang bilang dia lebih muda dari Achilles, ada yang bilang seumuran.
Meskipun tampak seperti tokoh side-kick, Patroclus merupakan salah satu titik penting dalam perang Troy.  

Pada saat perang Troy, Achilles ‘ngambek’ terhadap raja Agamemnon dan tidak mau berperang, Patroclus berperang menggunakan baju zirah milik Achilles dan berpura – pura memimpin pasukan sebagai Achilles. Sayangnya ia terbunuh oleh Hector, pangeran Troy yang mengira dia adalah Achilles. Kematian Patroclus memicu kemarahan Achilles dan membuatnya balas dendam membunuh Hector, dan menjadi titik balik kehancuran kerajaan Troy.


Achilles & Patroclus dalam film Troy(2005)


Achilles diperankan oleh Brad Pitt

Patroclus diperankan oleh baby Garret Hedlund

Sejak filmnya rilis, gue sering melihat film Troy diputar di stasiun televisi swasta. Karena di tv, dan sering kepotong iklan, dan pada saat itu gue sekitar kelas 6 SD gue belum tertarik dengan perang – perang jadinya asal nonton saja, bahkan melupakan. Sampai sekitar beberapa tahun lalu gue disuruh nonton film 300, yang katanya bagus banget. Emang sih, gue nonton 300 dan terpukau dan kembali menyukai film perang kolosal kuno. Setelah membaca review – review 300, banyak yang bilang terlalu banyak pake efek CGI, ga sekeren Troy, dll.
Nama film itu disebut, dan gue jadi penasaran,apakah timelinenya sama dengan 300? Apa ada hubungannya? Jadilah itu gue donlot Troy, tapi gak gue tonton -  tonton sampai seminggu yang lalu. Ok, kemudian gue nonton Troy, dengan kemampuan otak gue yang sudah berkembang dan bukan otak jaman SD, dan tidak lupa sudah terkontaminasi bibit – bibit Fujoshi :p
And damn~~ gue menemukan Garret Hedlund di film ini, yang mana ternyata ini adalah film pertamanya. Masih muda dan imut imut banget. (Someday I’ll write about him) dan disini dia jadi Patroclus! OMG. Dan Brad Pitt sebagai Achilles. Duh meleleh adek.

Jadi, di film Troy ini memang cukup memangkas dan meringkas cerita asli di Kitab Iliad. Banyak yang dirubah dan disesuaikan dengan dunia perfilman. Well, ga ada yang bisa marah juga, namanya mitologi. Dan film ini cukup informatif untuk memberikan garis besar cerita sebenarnya kepada orang awam seperti gue dengan menggunakan sudut pandang pihak Yunani dan pihak Troy,minus adegan berantem – beranteman dewa – dewi yang ada.

Di film ini, Achilles tetap jadi bintang  dan Patroclus menjadi side-kick sebagai sepupu Achilles.Terlihat disini penonton digiring untuk melihat hubungan Achilles dan Patroclus sebagai hubungan cinta platonic kakak – adik, dimana Achilles berperan sebagai abang – abangan yang  overprotective dan Patroclus yang berperan sebagai dede – dede remaja dengan emosi yang labil dan cepat ngambek.
Sayang, hubungan Achilles dan Patroclus tidak digali sedalam itu di film ini. Padahal, kematian Patroclus yang diikuti kemarahan Achilles bisa berpotensi sebagai titik utama drama yang super dramatis di film ini. Drama di film ini justru muncul dari hubungan Brisies – Achilles, yang emang gak kalah dramatis juga, heartbreaking malah.

Salah satu poin yang paling gue suka dari film ini juga adalah dialognya. Mereka menggunakan dialog dialog lebay (aduh gue lupa apa namanya), maksudnya dialog yang puitis, tapi nggak selebay  gaya Romeo & Juliet. Setiap dialog yang dilontarkan tokoh – tokoh disana begitu kuat dan bermakna. Jadi nggak ada dialog bertele – tele. Dan intonasi, omg, disini sangat detail. Makanya setiap karakter jadi begitu kuat, karena mereka punya cara bicara masing – masing. This movie is a whole package of awesomeness!


Achilles & Patroclus dalam The Song of Achilles karya Melanie Miller (2012)



Ternyata, bukan cuma gue yang menangkap hint – hint ‘cinta’ (halah) Achilles dan Patroclus di film Troy. Setelah malang melintang di fanfiction.net dan kepo ke dunia  internet(harusnya gue baca Iliad, Cuma mager parah karena bahasa Inggrisnya susah :p) , memang ada indikasi Achilles dan Patroclus adalah lovers.  Bahkan ga ada yang menyebut dia sepupu Achilles. Rata – rata best friend. Jadi gue ambil kesimpulan karakterisasi sepupuan dan hubungan abang  - adek murni scenario film aja supaya drama cintanya fokus ke Brisies – Achilles.

Dan kemudian gue menemukan si mbak ini. Mbak Melanie Miller membawa kita ke dunia impian para fujoshi (gue curiga mbak itu fujoshi dan doyan baca – baca fanfic yaoi; itumah gue :p) Dia menulis novel tentang hubungan Achilles dan Patroclus dari sudut pandang Patroclus.  Hubungan mereka dari kecil yang tentunya berakhir dalam perang Troy membuat Melanie Miller mau nggak mau ya sekaligus menulis ulang perang Troy dari Iliad, namun dipersempit dari sudut pandang Patroclus, meski tetep, fokusnya ya love story antara Achilles dan Patroclus.

Di buku ini Melanie Miller cukup ‘taat’ menggunakan Iliad sebagai pedoman, dengan jalan cerita yang cukup berbeda dengan apa yang kita lihat di film Troy yang sudah mengalami perombakan. Di buku ini Miller banyak membahas cerita masa muda Achilles dan Patroclus jauh sebelum perang Troy dimulai.

Patroclus, sebagai tokoh utama dan merupakan narrator dari buku ini digambarkan sebagai seorang pangeran yang diasingkan ketika berumur 10 tahun dari kerajaannya sendiri karena nggak sengaja membunuh anak sebayanya. Ayahnya, si raja Menoetius yang digambarkan emang gak suka sama Patroclus karena dianggap terlalu ‘lemah’ untuk menjadi penerusnya langsung mengasingkannya ke Pthia, kerajaan dimana Achilles berada.Di mulailah persahabatan mereka yang bertumbuh menjadi cinta.

Diceritakan disini mereka mulai bermain dan berteman, dikirim untuk belajar bersama Chiron, seorang centaur yang mengajarkan mereka berbagai macam pelajaran mengenai obat – obatan, cara berkelahi, main musik, dan lain lain selama beberapa tahun hingga mereka remaja. Sampai perang Troy yang hendak dimulai, Thetis, ibu Achilles yang disini overprotect banget, menyembunyikan Achilles di kerajaan Sycros yang terkenal dengan wanita – wanita penarinya, dan membuat Achilles menyamar menjadi perempuan karena tidak mau anaknya ke medan perang.Sampai akhirnya Achilles dijemput Odysseuss, raja Itacha dan membujuknya untuk pergi ke medan perang. Baru mulailah perjalanan menuju perang Troy, yang ternyata memakan waktu bertahun – tahun.  Perang Troy di buku ini (yang berpedoman ke Iliad) tidak sesimpel yang ada di film, ya meskipun di buku ini tetap terkesan ‘dipercepat’  juga, tapi lebih detail sedikit. Sampai pada akhirnya, kita tahu bagaimana cerita ini akan berakhir.

Jujur, gue nggak terlalu suka dengan karakterisasi tokoh – tokoh di buku mbak Miller ini. Ga ada tokoh yang membuat gue simpatik.
Gue tahu disini kita diajak menjadi Patroclus, memandang kehidupannya dari lahir sampai mati, memandang Achilles, memandang perang Troy, melalui kacamata Patroclus. Sayangnya Miller disini membuat tokoh Patroclus bukan tokoh yang dapat dengan mudah dicintai pembaca.
Ia membuat Patroclus menjadi tokoh yang  depresif dan lembek, dimana satu satunya motivasi hidupnya adalah Achilles. Karena sudut pandangnya ‘Patroclus banget’, gue jadi ikutan memandang dunia di dalam buku yang sedang dijalani Patroclus ya tidak se mengasyikkan itu. Dunia Patroclus serasa hitam putih, dan satu – satunya yang bersinar hanyalah Achilles. Gue sampe ikutan jadi depresif abis baca separuh buku.

Dan penokohan Achilles yang begitu lemah. Maksudnya, karakter Achilles disini tidak digambarkan dengan tegas, sehingga gak membekas di gue. Ya ya gue mengerti ini dari sudut pandang Patroclus. Dan ya, kita semua tahu Patroclus mencintai Achilles, tapi cara Patroclus disini menggambarkan Achilles nggak lebih dari “dia berkilau seperti emas”, “dia tersenyum seperti matahari” daan banyak metafora lainnya yang justru tidak menjelaskan apa – apa.  Ya gue lebih bisa mendeskripsikan Achilles dari film Troy karena karakternya di film begitu kuat.  Kalau di buku ini, mau bilang Achilles arogan, ambisius, dan penuh harga diri tinggi cukup susah. Karena perlakuan Achilles ke Patroclus di buku ini bisa dibilang cukup lemah lembut (yeah there’s love!). Gue baru merasakan arogansi Achilles di akhir – akhir buku dimana dia berseteru sama Agamemnon dan nggak mau ikut perang sampai Agamemnon memohon padanya. Maksud eyke, dari awal buku saat mereka masih kecil banyak waktu untuk membangun tokoh Achilles(dan Patroclus) pelan – pelan. Disini Patroclus sibuk menggambarkan Achilles di mata dia yang bersinar seperti emas dan tersenyum seperti matahari, tapi Patroclus nggak mendeskripsikan bagaimana Achilles berlaku dengan sekitarnya. Sumpah gue nggak melihat sedikitpun sisi Achilles yang arogan, ambisius, ksatria hebat dan kuat sebelum masuk ke bab akhir – akhir tentang perang Troy. Seolah – olah karakter Achilles terbentuk setelah perang, tanpa alasan yang kuat.

Atau mungkin balik lagi, memang itu semua sudut pandang Patroclus. Patroclus tidak pernah memandang sisi negatif Achilles. Patroclus selalu mengagung – agungkan Achilles, dan memang itulah yang dia lihat. Achilles mulai terasa perubahannya pada saat perang mungkin memang karena kejayaannya dalam peperangan dan statusnya yang meningkat membuat aslinya Achilles keluar, dan disitu Patroclus baru meyadari perubahan Achilles.

Dan memang kesalahan terbesar adalah nonton film Troy terlebih dahulu baru baca buku ini. Jadi terkontaminasi sama karakter film kan. Ya, tapi filmnya rilis duluan juga jadi gimana dong :P
Karena memang film dan buku ini memberikan sensasi yang berbeda.


Anyway di buku ini banyak banget quotes yang bagus, sangking banyaknya gue bingung mau tulis yang mana hahaha.

Kalo gitu kenapa lo gak bisa move on?

Yak, banyak hal yang membuat gue membaca cerita ini terus sampai halaman terakhir. Selain karena udah kepalang ngefans  sama pasangan ini, karena meskipun penokohannya nggak kuat dan nggak loveable, tokoh Patroclus yang menyedihkan itu bisa meremas – remas perasaan gue. Dia mencintai Achilles dengan sangat menyedihkan, dan gue dibuat penasaran bagaimana hasil akhirnya. Apa yang terjadi nanti pas Patroclus mati? Meski nggak bikin gue nangis, tapi endingnya tetap bikin gue sakit hati. (Dan tentu saja, selama membaca buku ini gue tidak lepas membayangkan Achilles dan Patroclus ya seperti Brad Pitt dan Garret Hedlund di film muahahahaha)
Dan gue sangat menyukai tema ‘cinta’ nya. Disini, Patroclus dan Achilles tidak memusingkan apakah mereka gay, bisex,  dll.Mereka tidak mengkhawatirkan apa yang orang – orang pada zaman sekarang ini khawatirkan. Mereka hanya saling mencintai dengan sangat natural. Sekalipun  Achilles ‘dijebak’ ibunya untuk mengawini Deidameia , dan memiliki anak kemudian, sekalipun Deidameia juga menjebak Patroclus untuk menidurinya, mereka tidak ambil pusing soal orientasi seksual. Bahkan Brisies, yang pada cerita ini justru menaruh hati pada Patroclus mengatakan, “bukankah sudah biasa, seorang prajurit memiliki istri dan juga seorang kekasih?”  sayang Patroclus tetap lebih memilih Achilles, meski hati kecilnya sempat terusik tentang masa depannya yang ingin memiliki keluarga dan anak. Mungkin orang – orang ribuan tahun dahulu punya banyak hal yang lebih harus dipikirkan ketimbang orientasi seksual, sudah terlalu banyak darah tumpah tanpa harus mengurusi dosa – dosa orang lain, atau mungkin dewa – dewi mereka jauh lebih toleran. Bisa dikatakan buku ini tidak menceritakan tentang gay, tapi buku ini menceritakan tentang cinta.


Jadi....

Namanya juga mitologi, ribuan tahun yang lalu pula dibuatnya, jadi tidak ada patokan kokoh dalam tiap karakterisasi maupun jalan cerita yang pasti. Yang jelas, dari perkenalan gue terhadap kedua tokoh ini, gue terpukau dengan Achilles karena ambisiusnya dan Patroclus dengan cintanya. Apapun jenis hubungan kedua tokoh ini, gue jatuh cinta dengan cinta mereka. meskipun terbiasa sama yaoi, tapi gue tetep lebih prefer hubungan mereka seperti di film, kakak-adek zone dengan 'hint' sana - sini tanpa harus eksplisit seperti di novel TSoA. Tapi yah balik lagi, namanya mitologi hahahaha

Dan menurut gue bukan hanya Achilles dan Patroclus saja yang memukai, Homer sang penulisnya juga memukau. Berkali – kali disebut, bahwa Achilles ingin namanya diingat ribuan tahun. Kejayaan, ketenaran, adalah sesuatu yang sangat ingin dicapai pada masa itu. Dan ya, Homer berhasil. Tokoh – tokohnya diingat sampai saat ini. Terdengar ke seluruh penjuru dunia. Dan akan terus didengungkan, dengan hadirnya cerita – cerita yang berkembang dari Iliad miliknya seperti The Song of Achilles. Achilles masih akan diingat ribuan tahun mendatang. Itu yang bikin merinding. Tiap ada dialog Achilles ngomongin ketenaran, kejayaan, nama yang akan diingat ribuan tahun, gue langsung membayangkan Homer di Underworld sedang membusungkan dada, karena sampai detik ini nama Achilles berhasil masih disebut.
Gue nggak tau Homer itu kayak gimana, gue nggak tau dia makan vitamin apa, berdoa kepada siapa, dewa mana yang dia sembah waktu menulis Iliad, dan apa yang dia pikirkan waktu menulis cerita – cerita tersebut. Apakah dia membayangkan, bahwa ribuan tahun kemudian tulisannya akan tetap dibaca oleh umat manusia? Ditafsirkan dan dipelajari dengan berbagai macam cara, sebagai nilai historis maupun sebagai karya sastra. Diapresiasi dengan diceritakan kembali sebagai karya sastra seperti The Song of Achilles, atau bahkan dicomot untuk dibuat sempalan – sempalan manis oleh penulis – penulis fanfic di sudut dunia internet sana. Glorious and fame. You get that, Achilles.
















You Might Also Like

1 comments

  1. Terima kasih untuk reviewnya, mengkomparasi antara film dan buku. Kedepannya jika ingin membuat artikel sejenis yg.mengkomparasikan dua hal yang berbeda, buatlah seobjektif mungkin. Sebisa mungkin untuk tidak menaruh opini yang cenderung hanya ke satu kubu saja. Misalnya, film yg lebih kuat karakterisasinya. Buatlah dgn seimbang, karena eksekusi film dan buku adalah dua hal yg berbeda.

    ReplyDelete

Like us on Facebook

Flickr Images